Sekitar 2 menit baca
Malam 1 Sura: Kenapa Diperlakukan Berbeda dari Tahun Baru Lain
Kalau tahun baru Masehi dirayakan dengan kembang api dan keramaian, tahun baru Jawa justru ditandai dengan diam.
Tahun baru yang dimulai saat matahari terbenam
Dalam kalender Jawa, pergantian hari terjadi saat matahari terbenam, bukan tengah malam. Karena itu tahun baru Jawa dimulai pada malam hari — yang kemudian dikenal sebagai malam 1 Sura.
Sura bertepatan dengan Muharram dalam kalender Hijriah, dan karena keduanya berbasis peredaran bulan, tanggalnya bergeser maju sekitar sebelas hari tiap tahun terhadap kalender Masehi.
Diperingati, bukan dirayakan
Perbedaan paling mencolok dari tahun baru Masehi adalah suasananya. Malam 1 Sura umumnya diisi dengan laku prihatin — perenungan, doa, dan menahan diri, bukan pesta.
Dalam banyak keluarga, malam ini dijalani dengan lebih banyak diam dan introspeksi atas apa yang sudah dilewati setahun terakhir.
Tradisi yang menyertainya
Beberapa tradisi yang dikenal luas antara lain tirakatan atau berjaga sepanjang malam, serta berbagai bentuk arak-arakan dan ritual pembersihan benda pusaka yang dilakukan di keraton maupun komunitas tertentu.
Ada pula tradisi berjalan mengelilingi kawasan tertentu tanpa berbicara, yang dijalani sebagai bentuk laku diam dan pengendalian diri.
Bentuk dan penekanannya berbeda antar daerah dan antar komunitas. Tidak ada satu bentuk baku yang berlaku di semua tempat.
Kenapa Sura dianggap bulan yang berat
Sura secara tradisi dianggap bulan yang sebaiknya tidak diisi hajatan besar seperti pernikahan. Ini yang sering disalahpahami sebagai kepercayaan bahwa Sura membawa sial.
Pembacaan yang lebih umum di kalangan yang menjalankannya: Sura adalah bulan untuk menahan diri dan merenung, sehingga keramaian dianggap kurang sesuai dengan suasananya. Bukan soal bahaya, melainkan soal kepantasan suasana.
Menyikapinya hari ini
Bagi yang tidak menjalankan tradisi ini, memahami maknanya tetap berguna — terutama kalau kamu tinggal di daerah dengan tradisi Jawa yang kuat dan ingin menghormati kebiasaan setempat.
Bagi yang menjalankannya, inti yang sering ditekankan bukan pada ritualnya melainkan pada jeda untuk menilai diri. Itu praktik yang nilainya bertahan terlepas dari kepercayaan apa pun.
Mau langsung mencoba hitungannya?
Buka halaman Kalender Jawa →Artikel Lainnya
Kalender Jawa
Isi Kalender Jawa dan Apa Gunanya di Kehidupan Sehari-hari
Kalender Jawa bukan satu siklus, tapi beberapa siklus yang berjalan bersamaan. Salah satunya bahkan masih dipakai petani untuk menentukan kapan mulai menanam.
Kalender Jawa
Pranata Mangsa: Kalender Musim yang Dipakai Petani Jauh Sebelum Ada Prakiraan Cuaca
Jauh sebelum ada satelit dan badan meteorologi, petani Jawa punya sistem pembagian musim berbasis pengamatan alam yang sangat rinci.
Kalender Jawa
Hitungan Selamatan 7, 40, 100, dan 1000 Hari
Angka-angka ini hafal di luar kepala bagi banyak keluarga Jawa, tapi jarang ada yang menjelaskan dari mana asalnya dan bagaimana cara menghitungnya.
Weton
Weton di Jawa Timur: Bukan Sekadar Hitungan, Tapi Cara Orang Menata Hidup
Kalau kamu pernah belanja di Pasar Legi Ponorogo atau Pasar Pon Trenggalek, sebenarnya kamu sudah menyentuh sistem weton tanpa sadar. Nama pasar-pasar itu bukan kebetulan.
Weton
Cara Menghitung Weton Sendiri Tanpa Kalkulator
Kalkulator memang lebih cepat, tapi begitu tahu logikanya kamu bisa menghitung weton siapa pun cukup dengan selembar kertas — dan tahu kalau ada situs yang hasilnya keliru.
Weton
Petung Jodoh Weton: Apa yang Sebenarnya Dihitung
Hitungan jodoh weton bukan satu rumus tunggal. Ada beberapa metode yang berjalan bersamaan, dan tidak jarang hasilnya saling bertentangan.